“CERDAS EMOSI DAN CERDAS SPIRITUAL”

0

 

“Ke“cerdas”an “emosi”, mencakup pengendalian diri, semangat dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri”. (Daniel Goleman).

 

 

Ke“cerdas”an “emosi” memberi kita kesadaran akan perasaan sendiri dan perasaan orang lain. Daniel Goleman dalam bukunya ‘Emotional Intelligence, juga mengajarkan dan menanamkan rasa empati, cinta, motivasi dan kemampuan untuk menanggapi kesedihan atau kegembiraan secara tepat. Kesuksesan hidup secara sosial idealnya terdukung tidak hanya oleh ke“cerdas”an rasio, melainkan juga oleh ke“cerdas”an “emosi”. Ke“cerdas”an “emosi” dapat menjadi kunci sukses dan gagalnya seseorang.

 

 

Ke“cerdas”an “spiritual” adalah ke“cerdas”an tertinggi yang dapat diraih oleh manusia. Ke“cerdas”an “spiritual” memungkinkan manusia menjadi kreatif, mengubah aturan dan situasi. Ke“cerdas”an “spiritual” memungkinkan kita untuk bermain dengan batasan, menjalankan permainan tak terbatas. Ke“cerdas”an “spiritual” juga memberi kita kemampuan membedakan. Ke“cerdas”an “spiritual” memberi kita moralitas, kemampuan menyesuaikan aturan yang baku dengan pemahaman dan cinta serta kemampuan setara untuk melihat kapan cinta dan pemahaman sampai pada batasannya. Ke“cerdas”an “spiritual” dapat menangkap pesan dan hakikat baik dan jahat. Ke“cerdas”an “spiritual” pun mampu membayangkan suatu kemungkinan yang belum terwujud — untuk bermimpi, bercita-cita, dan mengangkat diri dari kerendahan. Ke“cerdas”an “spiritual” merupakan kemampuan internal bawaan otak dan jiwa manusia, dengan sumber terdalamnya terletak pada inti alam semesta, sejarah dan kedalaman jiwa kita. Menurut Zohar dan Marshall, ke“cerdas”an “spiritual” adalah fasilitas yang berkembang selama jutaan tahun, yang memungkinkan otak untuk menemukan dan menggunakan makna dalam memecahkan persoalan. Dalam tradisi Islam, salah satu jalan untuk hidup “cerdas spiritual” adalah tasawuf.

 

Muhamad Wahyuni Nafis, dalam bukunya ‘9 Jalan untuk “Cerdas Emosi” dan “Cerdas Spiritual”, membahas tentang ‘Sembilan Jalan untuk “Cerdas Emosi” dan “Cerdas Spiritual”. Dia membaginya menjadi ‘Tiga Jalan’:

1. Tiga Jalan Pertama: Sabar , syukur dan tawaduk.

2. Tiga Jalan Kedua: Baik sangka, amanah dan silaturahim.

3. Tiga Jalan Ketiga: Tawakal, ikhlas dan taqwa.

 

1. Sabar.

Sabar adalah mengekang kendali diri dan menahan pelampiasan amarah yang mengakibatkan kekecewaan dan kegelisahan. Orang yang sabar sangat sadar bahwa pelampiasan amarah dapat mendatangkan bencana. Penyabar, tidak mudah mengeluh, tidak suka mengadu dan tidak senang menyalahkan orang lain. Penyabar akan mendasarkan respons dan kegiatannya pada prinsip hidup yang benar, yaitu prinsip hidup yang menguntungkan semua pihak, membebaskan dan membahagiakan. Tidak akan mudah dipengaruhi oleh hal-hal eksternal. Tidak akan: ‘senang tiada kepalang kala mendapat pujian dan pusing tujuh keliling kala mendapat kritikan’.

 

2. Syukur.

Perilaku syukur dapat dimulai dengan sikap menerima keadaan apa adanya. Apabila mendapat keadaan yang tidak sesuai dengan keyakinan dan aturan yang berlaku, orang berkarakter syukur akan menghindar dan menolaknya dengan tenang serta tidak akan terpengaruh oleh keadaan buruk tersebut. Pemilik karakter syukur dapat menerima sekaligus memanfaatkan sesuatu yang disukai ketika memperolehnya. Ia juga sanggup menerima sesuatu yang ada dan yang tiada. Berkaitan dengan kecakapan, pemilik karakter syukur sangat maksimal menggunakan kecakapannya. Ia sangat maksimal memfungsikan berbagai komponen yang dimilikinya untuk meraih kehidupan yang lebih baik, lebih sukses dan lebih bahagia.

 

3. Tawaduk.

Tawaduk adalah perwujudan tiadanya sikap takabur. Para pemilik karakter tawaduk, tenang, penuh wibawa, rendah hati, tidak jahat, tidak congkak dan tidak sombong. Mereka adalah orang-orang yang berilmu dan bersikap lemah lembut. Mereka selalu menjaga kehormatan diri dan tidak berlaku bodoh. Orang berkarakter tawaduk selalu memperhatikan kedudukan orang lain dan tidak berlaku arogan. Mereka juga mempunyai karakter sederhana serta bebas dari sikap lalai dan berlebihan. Oleh sebab itu sikap tawaduk membuat pemiliknya disenangi sekaligus dikagumi orang lain. Tuhan juga mewajibkan Rasulullah SAW untuk bertawaduk kepada orang di sekitarnya sebagaimana firman Allah dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 215. Hadits Riwayat Muslim juga menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawaduk, sehingga tidak ada satupun yang terhina dan tidak satupun yang tersakiti’.

 

4. Baik Sangka (Positive Thinking).

Sikap dan perilaku ini sangat dianjurkan oleh Islam karena merupakan konsekwensi logis yang niscaya dari ajaran bahwa semua manusia pada dasarnya adalah baik. Manusia diciptakan oleh Allah SWT dan dilahirkan dalam keadaan fitah (suci). Jadi manusia pada dasarnya cenderung kepada kebenaran dan kebaikan. Hindarilah banyak berprasangka, karena sebagian prasangka adalah dosa. Juga janganlah saling memata-matai dan jangan saling menggunjing. Karakter baik sangka sangat erat kaitannya dengan sikap menjauhi perbuatan mengejek, mencela, mengolok-olok, merendahkan dan memberi sebutan buruk kepada orang lain.

 

5. Amanah.

Amanah merupakan salah satu konsekwensi iman, yaitu sifat dapat dipercaya. Amanah sebagai budi luhur adalah lawan khianat yang amat tercela. Amanah adalah sikap dan perilaku teguh dan konsisten terhadap peraturan, kesepakatan dan tuntutan alami. Karena itu, amanah sangat terkait erat dengan perilaku adil dan jujur. Amanah juga berarti integritas, yakni adanya kesatuan antara teori dan praktik, antara pengetahuan dan pengamalan. 

 

6. Silaturahim.

Silaturahim adalah pertalian cinta kasih sesama manusia, khususnya antara saudara, kerabat, handai-taulan, tetangga dan seterusnya. Manusia wajib mencintai sesamanya agar Allah juga mencintainya: “Kasihilah orang-orang di bumi, niscaya Dia (Tuhan) yang di langit akan mengasihimu.” Pengamal silaturahim akan menyapa orang lain dengan penuh makna dan kasih sayang, memenuhi undangan teman dan tetangga apabila tidak ada halangan yang berarti, serta menengok dan mendo’akan saudara dan teman yang mendapat musibah. Jalinan kasih sayang ini tentunya berlaku lintas keyakinan dan agama. Al-Qur’an telah menegaskan bahwa Rasulullah SAW, meskipun sangat tegas terhadap para penganut agama lain, tetap membina jalinan penuh kasih sayang dalam hubungan sosial dengan mereka, sebagaimana difirmankan dalam Surat Al-Fath ayat 29.

 

7. Tawakal.

Tawakal (kepada Allah) berarti memasrahkan segala sesuatu kepada kehendak Allah SWT. Sikap dan perilaku tawakal merupakan pekerjaan hati – lebih dalam. Tawakal merupakan amal hati. Karena itu, tawakal bukan dinyatakan dengan ucapan lisan dan perbuatan anggota tubuh. Karakter tawakal menuntut upaya yang memadai sebelum menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Tawakal merupakan sikap penyerahan diri secara total kepada kebenaran. Namun, penyerahan diri total gtersebut tetap menuntut dukungan berupa upaya-upaya memadai. Pemilik karakter “spiritual” tawakal secara individual sudah tidak mempunyai masalah dalam hal kecakapan. Hidupnya selaras dengan alam, yakni berpedoman pada prinsip yang alami.

 

8. Ikhlas.

Ikhlas adalah sikap tulus karena Allah SWT, sikap tulus karena keyakinan yang benar, baik dan bermaslahat. Dalam Islam, sikap ikhlas menjadi ruh seluruh ibadah baik ukhrawi maupun duniawi. Karakter “spiritual” ikhlas yang benar tentu saja harus didasarkan pada pengetahuan dan pemikiran yang benar. Jika tidak — tindakan ikhlas justru akan dapat mengakibatkan bencana. Misalnya, ada orang ikhlas menolong orang lain yang tenggelam, namun ia sendiri tidak dapat berenang. Apabila ia menolong dengan cara langsung terjun, itu sama saja dengan bunuh diri. Karakter “spiritual” ikhlas berkekuatan menolak kejahatan sekaligus mampu memalingkan seseorang dari kemungkaran.Keikhlasan juga menuntut konsistensi, jangan setengah-setengah atau sepotong-sepotong. Orang ikhlas memberi makna pada pelayanan bagi sesama.Pemilik karakter “spiritual” ikhlas akan dengan sendirinya menjalankan berbagai kegiatan yang telah dipikirkan secara matang dengan bersandar sepenuhnya kepada Allah SWT. Melayani, menolong dan membantu orang lain merupakan bagian tak terpisahkan dari karakter “spiritual” ikhlas. Ciri lain karakter “spiritual” ikhlas adalah hilangnya rasa iri hati, dengki dan dendam kepada orang lain.

9. Taqwa.

Taqwa mengandung arti tuntutan untuk menjaga diri. Orang yang bertaqwa berarti orang yang mampu menjaga diri. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 2 – 5, bahwa orang yang bertaqwa beriman kepada yang gaib, mendirikan salat menafkahkan sebagian rezeki yang Allah berikan, mengimani wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan para nabi sebelumnya, serta meyakini adanya Hari Akhir. Mereka itulah yang mendapat petunjuk Tuhan dan sukses. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 177, juga dijelaskan bahwa orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang beriman kepada Allah SWT, Hari Kiamat, para malaikat, kitab-kitab suci dan para nabi, menginfakkan harta karena Allah SWT kepada para kerabat, anak yatim, fakir miskin, orang dalam perjalanan, peminta-minta dan budak, mendirikan salat dan membayar zakat, memenuhi janji serta sabar dalam keadaan menderita, sengsara dan suasana kacau sekalipun.Dalam ayat-ayat lain juga menegaskan bahwa orang-orang bertaqwa akan sukses dan berhasil serta memperoleh rahmat dari Allah SWT.

 

 

Golongan manapun, termasuk penganut agama apa pun, dapat menjalani jalan untuk “cerdas emosi” dan “spiritual” di atas.

 

macam-macam talak

0

A.          Pengertian Talak

Talak berasal dari kata “Ithlaq” yang menurut bahasa artinya melepaskan atau meninggalkan. Sedangkan menurut istilah adalah  melepas tali perkawinan dan mengakhiri hubungan ikatan suami isteri.`

Jadi talak ialah menghilangkan ikatan perkawinan sehingga setelah hilangnya ikatan perkawinan itu isteri tidak lagi halal bagi suaminya. Sedangkan arti mengurangi pelepasan ikatan perkawinan ialah berkurangnya hak talak bagi suami yang mengakibatkan berkurangnya jumlah talak yang menjadi hak suami tiga menjadi dua, dari dua menjadi satu, dari satu menjadi hilang. Hak talak yang demikian terjadi dalam talak raj’i.

B.           Macam-Macam Talak

Ditinjau dari segi waktunya talak menjadi tiga macam yaitu :

1.      Talak Sunni yaitu talak yang dijatuhkan sesuai dengan tuntutan sunnah. Dikatakan talak sunni jika memenuhi 4 (empat) syarat yaitu :

a)      isteri yang ditalak sudah pernah digauli, bila belum pernah digauli maka bukan termasuk talak sunni.

b)      isteri dapat segera melakukan menunggu ‘iddah’ suci setelah ditalak yaitu dalam keadaan suci dari haid

c)      talak itu dijatuhkan ketika isteri dalam keadaan suci, baik dipermulaan, dipertengahan maupun diakhir suci, kendati beberapa saat lalu datang haid.

d)     suami tidak pernah menggauli isteri selama masa suci di mana talak itu dijatuhkan. Talak yang dijatuhkan oleh suami ketika isteri dalam keadaan suci dari haid tetapi pernah digauli, tidak termasuk talak sunni.

2.      Talak Bid’i yaitu talak yang dijatuhkan tidak sesuai atau bertentangan dengan tuntutan sunnah dan tidak memenuhi ketentuan syarat-syarat talak sunni. Termasuk dalam talak bid’i adalah :

a)      talak yang dijatuhkan terhadap isteri pada waktu haid (menstruasi) baik dipermulaan haid maupun dipertengahannya.

b)      talak yang dijatuhkan terhadap isteri dalam keadaan suci tetapi pernah digauli oleh suaminya dalam keadaan suci dimaksud. 

Ditinjau dari segi dan tegasnya kata-kata yang dipergunakan sebagai ucapan talak, maka talak dibagi menjadi dua macam yaitu[1] :

1.      Talak Sharih yaitu talak dengan mempergunakan kata-kata yang jelas dan tegas, dapat dipahami sebagai pernyataan talak atau cerai seketika diucapkan, tidak mungkin dipahami lagi.

Beberapa contoh talak sharih adalah

  • engkau saya talak sekarang juga. Engkau saya cerai sekarang juga
  • engkau saya firaq sekarang juga. Engkau saya pisahkan sekarang juga
  • engkau saya sarah sekarang juga. Engkau saya lepas sekarang juga.

Apabila suami menjatuhkan talak terhadap isterinya dengan talak sharih maka menjadi jatuhlah talak itu dengan sendirinya sepanjang ucapan itu dinyatakan dalam keadaan sadar dan atas kemauannya sendiri.

2.      Talak Kinayah yaitu talak dengan menggunakan kata-kata sindiran, samar-samar seperti contoh :

  • engkau sekarang telah jauh dariku
  • selesaikan sendiri segala urusanmu
  • janganlah engkau mendekati aku lagi
  • pulanglah ke rumah ibumu
  • saya sekarang telah sendiri dan hidup membujang

Ucapan-ucapan tersebut mengandung sebuah kemungkinan cerai dan mengandung kemungkinan lain. Tentang kedudukan talak dengan kata-kata kinayah atau sindiran ini sebagaimana dikemukakan oleh Taqiyuddin Al Husaini, tergantung kepada niatnya seseorang artinya jika suami dengan kata-kata tersebut berniat untuk menjatuhkan talak maka talak jatuh, akan tetapi jika tidak berniat untuk menjatuhkan talak, maka talak tidak jatuh.

Ditinjau dari segi ada atau tidak adanya kemungkinan bekas suami merujuk kembali bekas isteri, maka talak dibagi menjadi dua macam, sebagai berikut :

1.      Talak Raj’i yaitu talak yang dijatuhkan suami terhadap isterinya yang telah pernah digauli, bukan karena memperoleh ganti harta dari isteri, talak yang pertama kali dijatuhkan atau yang kedua kalinya.

Setelah terjadi talak raj’I, maka isteri wajib ber iddah, hanya bila kemudian suami hendak kembali kepada isteri sebelum berakhir masa iddah, maka hal itru dapat dilakukan dengan jalan rujuk, tetapi jika dalam masa iddah tersebut suami tidak menyatakan rujuknya, maka talak tersebut berubah menjadi talak bain dengan berakhir iddahnya.: kemudian jika sesudah berakhir iddahnya itu suami ingin kembali kepada bekas isterinya, maka wajib dilakukan dengan akad nikah baru dan dengan mahar yang baru pula. Talak raj’i hanya terjadi dengan talak yang pertama dan kedua saja`

2.      Talak Ba’in yaitu talak yang tidak memberi hak merujuk bagi bekas suami terhadap bekas isterinya. Untuk mengembalikan bekas isteri ke dalam ikatan perkawinan harus melalui akad nikah baru lengkap dengan rukun dan syarat-syaratnya.

Talak bain terbagi dua macam yaitu :

a.       Talak Bain Sughra yaitu talak bain yang menghilangkan kepemilikan bekas suami terhadap isteri tetapi tidak menghilangkan kehalalan bekas suami untuk menikahkan kembali dengan bekas isterinya tersebut. Termasuk talak bain sughra adalah

·         talak sebelum berkumpul

·         talak dengan pergantian harta yang disebut khulu

·         talak karena aib (cacat badan), karena salah seorang dipenjara, talak karena penganiayaan atau yang semacanya.

b.      Talak Bain Kubra yaitu talak yang menghilangkan pemilikan bekas suami terhadap bekas isteri serta menghilangkan kehalalan bekas suami untuk kawin kembali dengan bekas isterinya, kecuali setelah bekas isteri itu kawin lagi dengan lelaki lain, telah berkumpul dengan suami kedua serta telah bercerai secara wajar dan telah selesai menjalankan iddahnya. Talak bain kubra terjadi pada talak yang ketiga

Ditinjau dari sega cara suami menyampaikan talak terhadap isterinya ada 4 (empat) macam yaitu

1.      Talak dengan ucapan yaitu talak yang disampaikan oleh suami dengan ucapan dihadapan isterinya dan isteri mendengar secara langsung ucapan tersebut

2.      Talak dengan tulisan yaitu talak yang disampaikan oleh suami secara tertulis lalu disampaikan kepada isterinya, kemudian isteri membacanya dan memahami isi dan maksudnya. Talak yang dinyatakan secara tertulis dapat dipandang jatuh (sah), meski yang bersangkutan dapat mengucapkannnya, sebagaimana talak dengan ucapan ada talak sharih dan kinayah, maka talak dengan tulisan pun demikian pula.

3.      Talak dengan isyarat yaitu talak yang dilakukan dalam bentuk isyarat oleh suami  yang tuna wicara. Isyarat bagi suami yang tuna wicara dapat dipandang sebagai alat komunikasi untruk memberikan pengertian dan menyampaikan maksud dan isi hati. Oleh karena itu, isyarat baginya sama dengan ucapan bagi yang dapat berbicara dalam menjatuhkan talak, sepanjang isyarat itu jelas dan meyakinkan bermaksud talak atau mengakhiri perkawinan.

Sebagian fuqaha mensyaratkan bahwa untuk sahnya talak dengan isyarat bagi orang yang tuna wicara itu adalah buta huruf. Jika yang bersangkutan mengenal tulisan dan dapat menulis, maka talak baginya tidak cukup dengan isyarat, karena tulisan itu lebih dapat menunjuk maksud ketimbang isyarat, dan tidak beralih dari tulisan ke isyarat, karena kecuali darurat yakni tidak dapat menulis.

4.      Talak dengan utusan yaitu talak yang disampaikan oleh suami kepada isteri melalui perantaraan orang lain sebagai utusan untuk meyampaikan maksud suami itu kepada isterinya yang tidak berada di hadapan suami bahwa suami mentalak isterinya. Dalam hal ini utusan sebagai wakil dari suami tersebut.

    

C.          RUKUN DAN SYARAT TALAK.

Rukun talak adalah unsur pokok yang harus ada dalam talak dan terwujudnya talak bergantung ada dan kelengkapannya unsur-unsur tersebut. Adapun rukun talak ada 4 (empat) yaitu[2] :

1.      Suami. Suami adalah yang memilki hak talak dan yang berhak menjatuhkannya. Selain suami tidak berhak menjatuhkannya, oleh karena itu talak bersifat menghilangkan ikatan perkawinan, maka talak tidak mungkin terwujud kecuali setelah nyata adanya akad perkawinan yang sah

Untuk sahnya talak suami memilii 3 (tiga) syarat yaitu :

a.       berakal,. Suami yang gila tidak sah menjatuhkan talak. Yang dimaksud dengan gila dalam hal ini adalah hilang ingatan atau rusak akal karena sakit, pitam, hilang akal karena sakit panas, sakit ingatan karena rusak akal sarafnya.

b.      baligh. Harus sudah dewasa

c.       atas kemauan sendiri. Yang dimaksud ialah adanya kehendak pada diri sendiri untuk menjatuhkan talak itu dan dijatuhkan atas pilihan sendiri bukan paksaan dari orang lain. Kehendak dan kerelaan melakukan perbuatan menjadi dasar taklif dan pertanggung jawaban. Oleh karena itu orang yang dipaksa melakukan sesuatu (dalam hal ini menjatuhkan talak) tidak dapat dipertanggung jawabkan atas perbuatannya

2.      Isteri. Masing-masing suami hanya berhak menjatuhkan talak terhadap isterinya sendiri. Tidak dipandang jatuh talak yang diucapkan terhadap isteri orang lain.

Untuk sahnya talak, isteri memiliki syarat sebagai berikut :

a.       isteri itu masih tetap berada dalam perlindungan suami. Isteri yang menjalani masa iddah talak raj’i dari suaminya oleh hukum Islam dipandang masih berada dalam perlindungan kekuasaan suami. Karenanya bila dalam hal ini masa itu suami menjatuhkan talak lagi, dipandang jatuh talaknya sehingga menambah jumlah talak yang dijatuhkan dan mengurangi hak talak yang dimiliki suami. Dalam hal talak bain, bekas suami tidak berhak menjatuhkan talak lagi terhadap bekas isterinya meski dalam masa iddahnya, karena dengan talak bain itu bekas isteri tidak lagi berada dalam perlindungan kekuasaan bekas suami.

b.      kedudukan isteri yang ditalak itu harus berdasarkan atas akad perkawinan yang sah. Jika ia menjadi isteri dengan akad nikah yang batil, seperti akad nikah terhadap wanita dalam masa iddahnya atau akad nikah dengan perempuan saudara isterinya (memadu antar dua perempuan bersaudara), atau akad nikah dengan anak tirinya padahal suami pernah menggauli ibu anak tirinya dan anak tiri itu berada dalam pemeliharaannya, maka talak yang demikian dipandang tidak ada.

c.       sighat talak. Ialah kata-kata yang diucapkan oleh suami  terhadap isterinya yang menunjukan talak, baik itu sharih maupun kinayah, baik berupa ucapan maupun tulisan, isyarat bagi suami yang tuna wicara atau pun dengan suruhan dia. Talak tidak dipandang jatuh jika perbuatan suami terhadap isteri menunjukan kemarahannya, semisal suami memarahi isteri, memukulnya, mengantarnya ke rumah orang tuanya, menyerahkan barang-barangnya tanpa disertai penyertaan talak, maka yang demikian itu bukan talak. Demikian pula niat talak atau masih berada dalam pikiran dan angan-angan, tidak diucapkan tidak dipandang sebagai talak. Pembicaraan suami tentang talak tetapi tidak ditujukan terhadap isterinya maka itupun bukan talak.

d.      qashdu (sengaja) artinya bahwa dengan ucapan talak itu memang dimaksudkan oleh yang mengucapkannya untuk talak, bukan maksud lain. Oleh karena itu salah ucap yang tidak dimaksud untuk talak dipandang tidak jatuh talak, seperti suami memberikan buah salak kepada isterinya. Ia mengucapkan kepada isterinya “ini buah talak untuk mu” maka ucapan tersebut tidak menjatuhkan talak.

 

 

 


[1] Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, (Jakarta: At-Tahiriyyah, 1976), H. 381

[2] Abdurrahman Ghazaly, Fiqh Munakahat, (Jakarta: Kencana, 2003), H. 201

 

UNIVERSITAS KEHIDUPAN

0

Selamat datang di universitas kehidupan….

universitas kehidupanDimana Tuhan sebagai Rektornya dan ciptaan-Nya menjadi dosennya. Silabus perkuliahan berikut diktatnya dapat dibaca dalam Kitab Suci yang kita yakini. Bahkan teori-teori yang dahsyat dan rumus-rumus canggih dalam hidup ada dalam Kitab Suci itu.

Materi perkuliahaannya sangat banyak.Mulai dari tujuan hidup, menjalani hidup, hingga kematian. Ada juga kelas cinta, kelas kesabaran, kelas perjuangan, dll. Dimana semua mahasiswa pasti mempelajarinya. Lokasinya bisa dimana saja dan kapan saja bisa mengakses mata kuliah dan mempelajarinya.

Terkadang, Sang Dosen memberikan ujian dadakan. Tapi bukan berarti tanpa pemberitahuan sebelumnya. Tingkat kesulitan ujian untuk setiap mahasiswa tidaklah sama. Tapi kesulitannya tidak pernah melebihi kesanggupan sang mahasiswa.

Ada yang lulus dengan nilai yang baik. Ada pula yang lulus dengan nilai pas-pasan. Tapi ada juga yang tidak lulus, bahkan memilih mengundurkan diri dari universitas ini. Setiap orang berkesempatan belajar di universitas ini. Hanya waktu belajar yang dimiliki tergantung pada umur masing-masing mahasiswa. Alumni universitas ini bergelar ‘almarhum’ atau ‘almarhumah’. Tapi tidak semua alumni lulus dengan nilai baik. Transkrip nilai akan diberikan setelah para alumni ‘diwisuda’. Nilai-nilai itu menentukan kemana para alumni akan berada di UNIVERSITAS ABADI.

SELAMAT MENJALANI PERKULIAHAN DI UNIVERSITAS KEHIDUPAN!!!

Ada banyak hal dalam hidup ini tidak di dapatkan di bangku sekolah maupun di bangku kuliah. Di sini kita akan belajar bersama-sama tentang banyak hal yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Pengalaman hidup tidak dapat ditukar dengan uang. Setiap pribadi memiliki keunikan tersendiri dan cerita hidup yang berbeda. Jadilah inspirasi bagi orang lain dengan pengalamn hidup yang kita miliki.

Universitas kehidupan ada untuk menemukan dan menyampaikan kebenaran tentang hidup. Hidup itu seperti musik, yang harus di komposisi oleh telinga, perasaan dan instink, bukan oleh peraturan yang tidak jelas ujung pangkalnya. Yang terpenting dalam Olimpiade bukanlah kemenangan,tetapi keikutsertaan …Yang terpenting dari kehidupan bukanlah kemenangan
namun bagaimana bertanding dengan baik.

Di UNIVERSITAS KEHIDUPAN kita akan belajar bahwa kebesaran seseorang tidak terlihat ketika ia berdiri dan memberi perintah, tetapi ketika ia berdiri sama tinggi dengan orang lain dan membantu orang lain untuk mengeluarkan yang terbaik dari diri mereka guna mencapai sukses.

Jadilah bagian dari UNIVERSITAS KEHIDUPAN karena akan membuat hidup anda menjadi inspirasi bagi orang lain. ^^

Pidato salah seorang mahasiswa UNIVERSITAS KEHIDUPAN FAKULTAS PERSOALAN JURUSAN PENDERITAAN

“Universitas kehidupan adalah tempat kuliahku
Manajemen kesulitan adalah jurusanku
Penderitaan adalah salah satu mata pelajaran kesukaanku
Tetesan keringat dan air mata adalah teman terbaik di ruang kelasku

Kemiskinan selalu menjadi topik hangat di kampusku
Kemandirian merupakan tugas yang paling utama di berikan padaku
Meringankan beban orang lain juga termasuk dalam tanggung jawabku
Kerja keras,cerdas serta memiliki kasih adalah suatu kewajiban yang harus di jalankan olehku

kampung persoalan hidup menjadi tempat KKN ku
keberanian untuk berbuat adalah sistem pengajaranku
keterbatasan bukan suatu hambatan yang berarti bagiku
begitupun kegagalan bukanlah aral melintang yang menghalangi cita-citaku

Bahagia dunia dan akhirat merupakan judul skripsiku
Doa dan perjuangan adalah dosen pembimbingku
Orang-orang sukses menjadi perpustakan lengkap bagiku
tak ketinggalan keluarga dan teman-teman selalu menyemangati untuk segera meraih gelar kesarjanaanku

Aku bersujud syukur padamu Ya Tuhan….
karena Engkau telah mengizinkan aku memasuki universitas terbaikmu dan sebuah harapan semoga aku bisa lulus dari universitas terbaik-Mu ini.”

Salam dari Universitas Kehidupan .

 

0

Di kisahkan ada dua orang pemuda yang sedang mencari pekerjaan di kota. Karena, sulitnya mencari pekerjaan yang layak, memaksa mereka bekerja di sebuah proyek pembangunan untuk perumahan elite.
Namun, walaupun mereka bekerja di tempat yang sama, tugas yang mereka dapatkan berbeda.

Pemuda pertama dengan tubuh besarnya di suruh oleh mandor untuk mengerjakan pekerjaan yang terlihat mudah yaitu membuat beberapa pintu dan jendela yang terbuat dari kayu. Dan, pemuda kedua yang terlihat lebih kecil dari pemuda pertama justru di suruh oleh mandor mengerjakan pekerjaan yang terlihat sulit yaitu menyusun batu bata dan mengaduk semen.

 

Mendengar apa yang di katakan pak mandor pemuda pertamapun merasa bahagia karena ia merasa pekerjaan yang di berikan terlalu mudah mengingat badannya yang besar sehingga menurutnya tidak perlu sungguh- sungguh dalam bekerja, sedangkan pemuda kedua merasa pekerjaan yang diberikan pak mandor sebagai tantangan yang harus di selesaikan dan perlu kesungguhan untuk menyelesaikannya. Dan, setelah pembagian tugas selesai di berikan pak mandor menganta pemuda pertama menuju tempat bekerjanya dan betapa kagetnya pemuda ini ketika dia melihat pintu dan jendela yang harus di selesaikan berbentuk ukiran yang mempunyai tingkat kerumitan cukup tinggi karena desain rumah yang akan di buat bergaya tradisional. Pak mandor kemudian memanggil salah satu pekerjanya, dan berkata “Pak tolong ajarkan pemuda ini mengukir dengan baik ya.”
“Baik pak,” kata pekerja tersebut sambil membawa pemuda pertama tadi menuju tempat di mana tergeletaknya kayu yang harus di ukir. Dan, karena sikapnya yang tidak sungguh-sungguh saat mengerjakan pekerjaan yang di anggapnya mudah membuatnya berulang kali melakukan kesalahan meski telah diajari berulang kali. Hal yang berbeda justru terlihat dari pemuda kedua, tampak dari jauh dia melakukan pekerjaan tanpa melakukan kesalahan meski hanya sekali di ajarkan. Karena, pemuda kedua terlihat mudah untuk memasang batu bata, terbesit niatan dari pemuda pertama untuk bertukar tempat. Agar kesalahan yang dia lakukan saat mengukir tidak ketahuan oleh mandornya. Dan, dia pun menghampiri pemuda kedua tadi, “hai kawan, kau terlihat lelah, jadi ijinkan aku untuk menggantikanmu menyusun batu bata ini dan kamu silahkan istirahat di sana sambil menggantikanku untuk mengukir kayu,” kata pemuda pertama. Pemuda kedua pun menyetujuinya, dan pergilah pemuda kedua menuju tempat di mana tergeletaknya kayu yang harus di ukir.
Dan, sore hari ketika pak mandor melihat hasil kerja beberapa pegaiwainya, dia melihat ada satu pintu yang terlihat bagus ukirannya, dan kemudian sambil memegang pintu tersebut dia pun bertanya kepada semua pegaiwanya, “Siapa yang mengukir pintu ini?”
“Pemuda ini pak,” kata salah satu pegawainya sambil menepuk pundak pemuda kedua. Kemudian pak mandor menghampirinya dan bertanya, “Nak bagaimana kau bisa melakukannya?”
“Sederhana pak caranya, kuncinya adalah bekerja dengan ketulusan dan kesungguhan, karena saat kita mendengarkan apa yang diajarkan dengan hati yang tulus maka kita akan mudah memahaminya, dan setelah kita memahami bagaimana caranya, kita tinggal bekerja dengan kesungguhan agar hasil yang di ciptakan menjadi karya yang luar biasa.”

kawanku seperjuangan

Lebih sering dari pada tidak ketika kita merasa bahwa pekerjaan yang kita dapatkan itu lebih mudah dari kemampuan yang kita miliki, kita lebih sering menyepelekannya dan tak mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Padahal semudah apapun pekerjaan yang kita lakukan, akan terasa sulit jika kita mengerjakannya tidak dengan kesungguhan begitupun sebaliknya. Ingatlah, bahaya terbesar untuk kita semua bukan karena pekerjaan kita terlalu sulit sehingga kita kesulitan mengerjakannya, tetapi karena pekerjaan kita terlalu mudah sehingga kita tidak sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Jadi, sudah selayaknya jika kita tidak ingin terjebak dalam bahaya terbesar dalam kehidupan yang disebut kegagalan, kita harus mengerjakan pekerjaan dengan ketulusan dan kesungguhan terlepas dari mudah atau susahnya pekerjaan yang akan kita kerjakan.

BERSYUKUR ITU MEMBAWA KETENANGAN DAN MENGUSIR RASA KELUH DAN KESAH

0

Sebelum engkau melangkah terlalu jauh dari negerimu
Sebelum engkau memiliki cita-cita besar
Sebelum engkau terlalu angkuh 
Sebelum engkau terlalu banyak mengeluh

Hari ini kukendarai keretaku menuju suatu tempat. Melewati perempatan lampu merah yang berada tak jauh dari gang rumahku. Sebuah pemandangan yang biasa ketika kulihat seorang Bapak-bapak (maaf) yang tubuhnya tak terlihat layaknya manusia kebanyakan. Sulit bagiku menggambarkan karena dengan mengingatnya saja ada gemuruh yang tertahan dalam dada. Tapi bagiku, beliau adalah laki-laki hebat yang mungkin karena kehebatannya itulah, krna kehebatan akan ketabahannya menerima takdir yang demikian itulah yang membuat beliau menjadi salah satu laki-laki terhebat di mataku.
Teman,mungkin kalau saya ataupun kita yang mengemban takdir yang beliau pikul sekarang, kita tidak akan sanggup menerimanya. Dan mungkin krna itu jugalah Tuhan tidak memberikan cobaan seperti yang beliau terima. Karena kita terlalu lemah. Karena kita tidak sekuat beliau.

Kuseberangi perempatan jalan itu. Di seberang, kulihat lagi beberapa Bapak-bapak (maaf) pengemis yang tak biasanya kulihat di sana. Itu artinya semakin bertambahlah jumlah mereka yang mengharap ada rasa kasihan dan kesadaran saudara-saudaranya untuk membagi sebagian kecil rezeki yang dititipkan Tuhan kepada mereka. Wajah mereka menua. Entah memang karena umur mereka yang telah hampir mencapai puncaknya ataukah karena kerasnya hidup yang mereka lalui sehingga wajah itupun tampak lusuh dan tak sesegar seperti umur mereka yang sebenarnya.

Seorang Bapak yang kuceritakan di atas, seorang Bapak yang tangannya cacat sejak lahir, seorang Bapak berpakaian lusuh dg wajah menghiba sambil membawa kotak infak, dan seorang Bapak yang hanya bisa terduduk sembari menunggu ada yang mau memberinya uang di pinggir jalan. Ya, merekalah 4 orang Bapak yang begitu berharap uluran tangan yang memberinya rezeki dari si pengguna jalan raya itu. Ada yang memberi dengan melemparkan uang itu kepada mereka. Tidak langsung ke tangan mereka, teman. Tapi uang itu dilemparkan kepada mereka dan mereka pun memungutnya di jalan itu… Allah…. T_T

Teman, jika kalian diberi uang dan orang itu memberinya dengan cara melemparkannya kepadamu, bagaimana reaksimu? Saya yakin sebagian besar orang akan marah. Tapi tidak dengan mereka. Mereka memungutinya dan mengucapkan “ALHAMDULILLAH” sembari mendo’akan orang tersebut.
Entahlah… Apakah karena kemiskinan hidup yang mereka tanggung dan kerasnya perlakuan yang mungkin telah setiap hari mereka dapatkan membuat mereka ikhlas diperlakukan “tidak biasa”.

Bukankah mereka juga manusia seperti kita? Bukankah mereka juga memiliki perasaan? Bahkan sebenarnya manusia seperti merekalah yang lebih mudah untuk bersedih. Mereka tidak seberuntung kebanyakan orang lain dalam memperoleh harta, maka haruskah kita juga membuat mereka tidak seberuntung kebanyakan orang dalam memperoleh perhatian dan kasih sayang? Ingatlah, mereka saudara kita. Karena sesungguhnya kita dan mereka ibarat satu tubuh yang seharusnya jika satu bagian terluka, yang lain juga ikut merasakannya.

Teman,kadang saat kita sakit, kita juga sering mengeluh. “Kenapa saya harus menanggung penyakit ini? Saya tidak sanggup”. Banyak lagi kalimat-kalimat yang menunjukkan keluhan kita saat sebuah penyakit menjadi satu cobaan yang diberikan kepada kita. Padahal, jika kita sakit, kita masih beruntung karena masih bisa dan memiliki biaya untuk berobat ke sana ke mari. Kita masih bisa memilih tempat-tempat dan obat-obat terbaik untuk mengobati penyakit kita. Kita masih bisa meminta ini dan itu bermanja pada orang tua, kerabat, sahabat, ataupun teman untuk melepas keinginan dan selera kita di kala sakit itu. Masih ada yang menjenguk dan memperhatikan. Masih ada yang mengkhawatirkan kita. Tapi mereka? jangankan orang lain, mungkin mereka sendiripun tidak peduli lagi penyakit apa yang mereka derita. Bukan karena mereka dzalim terhadap diri mereka sendiri, tapi karena itulah, karena terlalu banyak beban dan derita yang harus mereka pikul. Jika harus mengeluh lagi, itu hanya akan memperpanjang daftar keluhan mereka, hanya akan memperpanjang riwayat masalah mereka. Apakah akan usai? Tidak…karena mereka begitu sadar bahwa hidup mereka tidak akan berubah dengan mengeluh dan mengeluh.

Ah…… Ingin rasanya memeluk mereka.

Tapi, andaikan diri duduk di sampingnya, bukan mereka yang akan menangis. melainkan AKU. Karena si “AKU” terlalu lemah. Bahkan jauh lebih lemah dari mereka siempunya dan menanggung nasib itu………

Teman, jika hari ini kita ingin mengeluh dengan sakit yang kita derita, ingatlah bahwa masih banyak saudara kita yang mungkin lebih parah dari kita. Di luar sana mungkin ada dari mereka yang tengah dalam kondisi lemah terbaring di atas tempat tidur rumah sakit atau bahkan berada dalam keadaan sakaratul maut. “Na’udzubillah…

Jika hari ini kita mengeluh dengan pekerjaan yang telah kita dapat, ingatlah bahwa di luar sana msh banyak saudara kita yang berjuang dalam tapak demi tapak utk memperoleh pekerjaan. Menapaki langkah hanya untuk mengumpulkan uang demi mengisi perut hari ini, esok, dan esoknya lagi…

Jika hari ini kita mengeluh kedinginan hanya krna tidak memiliki selimut, ingatlah ketika di luar sana banyak saudara kita yang bahkan tidak memiliki tempat berteduh dari dinginnya hujan dan udara yang mencekam tubuhnya. Bayangkanlah ketika mereka hanya bisa duduk di antara toko-toko sembari memeluk lutut dengan tubuh yang menggigil kedinginan…

Jika hari ini kita masih mengeluh, berjalanlah keluar sana, peluklah tubuh itu atau sekedar pandangilah ia, semoga kita bisa lebih bersyukur karenanya…

ANTARA BANGGA DAN MALU

0

Seorang anak Ethiopia datang padaku
dengan sedih berkata lesu
“Andai aku jadi anak Indonesia sepertimu
takkan kujalani alur hidupku
dengan lapar berminggu-minggu
dan kenyang selalu kurindu
karena aku tahu di negerimu
sawah menghampar beratus – beribu
pangan melimpah di tiap penjuru”

Seorang anak Palestina mendekatiku
dengan muram berucap sendu
“Andai aku jadi anak Indonesia sepertimu
takkan kulalui hari-hariku
dengan nyanyian desing peluru
tarian asap dan bau mesiu
karena aku tahu di negerimu
damai tenteram setiap waktu
tanpa teror datang mengganggu”

Seorang gadis Amerika menghampiriku
Dengan sesal berbisik malu
“Andai aku jadi anak Indonesia sepertimu
takkan nista masa remajaku
dicabik-cabik gairah nafsu
karena aku tahu adat negerimu
bergaul bebas adalah tabu”

Seorang anak Arab Saudi menjumpaiku
dengan kagum bertutur lugu
“Andai aku jadi anak Indonesia sepertimu
takkan sekalipun kumenggerutu
negeriku gersang panas berdebu
tandus sahara dan padang batu
sedangkan subur tanah negerimu
sanggup tumbuhkan segala sesuatu
meski kau tanam setongkat kayu
meski kau semai sebongkah batu”

(Mendengar semua ungkapan itu
Duh……bangganya aku)

(namun setelah mereka berlalu
cemas datang menghampiriku
sebab andai mereka tahu
tentang detail hakikat negeriku
pasti mereka tak seorangpun mau
menjadi anak Indonesia sepertiku

tapi meskipun adanya begitu
kuungkap jujur tentang negeriku
meski bisik, meski lirih, meski bisu
meski mereka tak dengar, tak peduli aku)

“Anak Ethiopia sahabatku
terima kasih atas katamu tentang negeriku
yang punya sawah beratus ribu
sayang engkau tak pernah tahu
banyak juga rakyat negeriku
busung, kurus, pucat, dan kuyu
menahan lapar berwindu-windu
karena pangan melimpah itu
milik yang beruang dan banyak tipu
milik penguasa dan darah biru
sedang saudaranya tak mau tahu
rasa manusianya telah membeku
karena hatinya keras membatu”

“Anak Palestina sahabatku
terima kasih atas ucapmu tentang negeriku
katamu damai sepanjang waktu
sayang engkau tak pernah tahu
banyak juga rakyat negeriku
saling menjagal saling memburu
saling merampok saling menipu
ada majikan dibunuh babu
anak durhaka perkosa ibu
kakek bejat memangsa cucu
saudara biadab membantai sepupu”

“Gadis Amerika sahabatku
terima kasih atas bisikmu tentang negeriku
yang katamu punya adat dan tabu
sayang engkau tak pernah tahu
banyak juga anak negeriku
yang lahir hanya mengenal ibu
tanpa ayah yang mau mengaku
bahkan bayi lahir semenit lalu
harus berenang di selokan bau
dibuang ibunya karena malu”

“Anak Saudi sahabatku
terima kasih atas kagummu tentang negeriku
katamu subur tak pernah layu
sayang engkau tak pernah tahu
tanah surga yang subur itu
sekarang bukan lagi milikku
tergadai sudah sejak dahulu
membayar hutang negara palsu
sebab kalau tidak begitu
akan abadi ke anak cucu
tiap bayi yang lahir baru
terima warisan hutang yang baku
er pe lima belas juta tujuh ratus dua puluh tiga ribu”

(dan alangkah terkejutnya aku
karena mereka dengar bisikku
lalu menoleh dan menatapku
dan sebuah ejekan kaku
mendarat telak di dahiku

Duh……malunya aku)

Subhanallah Satu Gereja Masuk islam Gara-Gara Seorang Pemuda Islam di Amerika

0

Subhanallah Satu Gereja Masuk islam Gara-Gara Seorang Pemuda Islam di Amerika

 

Sebuah kisah nyata yang terjadi di negerinya Paman Sam. Patut kita ambil hikmahnya, diantaranya :

1. Kebenaran Islam yang nyata,
2. Sangat beratnya timbangan kalimat syahadat,
3. Pentingnya bagi pemuda Muslim untuk menuntut ilmu,
4.Dsb.

Simak saja kisahnya… Satu gereja masuk Islam benarkah? Semoga ALLAH mengijinkan kita menjadi pemuda seperti beliau, Amiiin….. Kisah Nyata Seorang Pemuda Arab Yang Menimba Ilmu Di Amerika Rabu, 22 Februari 06 Ada seorang pemuda arab yang baru saja me-nyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika.Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya. Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika, ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani.Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam. Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas di dekat sebuah gerejayang terdapat di kampung tersebut.Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja. Semula ia berkeberatan, namun karena ia terus mendesak akhirnya pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk. Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata, “Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini.” Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya. Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata, “Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya.” Barulah pemuda ini beranjak keluar. Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pendeta, “Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang muslim.” Pendeta itu menjawab, “Dari tanda yang terdapat di wajahmu.” Kemudian ia beranjak hendak keluar, namun sang pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini, yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memojokkan pemuda tersebut dan sekaligus mengokohkan markasnya. Pemuda muslim itupun menerima tantangan debat tersebut. Sang pendeta berkata, “Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat.” Si pemuda tersenyum dan berkata, “Silahkan! Sang pendeta pun mulai bertanya,

1. Sebutkan satu yang tiada duanya,
2. dua yang tiada tiganya,
3. tiga yang tiada empatnya,
4. empat yang tiada limanya
5. lima yang tiada enamnya,
6. enam yang tiada tujuhnya,
7. tujuh yang tiada delapannya,
8. delapan yang tiada sembilannya,
9. sembilan yang tiada sepuluhnya,
10. sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,
11. sebelas yang tiada dua belasnya,
12. dua belas yang tiada tiga belasnya,
13. tiga belas yang tiada empat belasnya.
14. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!
15. Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya?
16. Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?
17. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyu- kainya?
18. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!
19. Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api?
20. Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yg diadzab dengan batu dan siapakah yang terpelihara
dari ibatu?
21. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!
22. Pohon apakah yang mempu-nyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun
mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?”

Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum dengan senyuman mengandung keyakinan kepada Allah. Setelah membaca basmalah ia berkata,

1. Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.
2. Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah SWT berfirman, “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami).” (Al-Isra’:12) .
3. Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir
menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.
4. Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an.
5. Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.
6. Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ke-tika Allah SWT menciptakan makhluk.
7. Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis. Allah SWT berfirman, “Yang telah
menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang
Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.” (Al-Mulk:3).
8. Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah SWT berfirman,
“Dan malaikat-malaikat berada dipenjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas(kepala) mereka.” (Al-Haqah: 17).
9. Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu’jizat yang diberikan kepada Nabi Musa : tongkat,
tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang dan *
10 .Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang
berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat.” (Al-An’am: 160).
11. Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudara Yusuf.
12. Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu’jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah,
“Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, ‘Pukullah batu
itu dengan tongkatmu.’ Lalu memancarlah dari padanya dua belas mata air.” (Al-Baqarah: 60).
13. Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf ditambah dengan ayah dan
ibunya.
14. Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Shubuh. Allah SWT
berfirman, “Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing. ” (At-Takwir:18).
15. Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus AS.
16. Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Yusuf, yakni ketika
mereka berkata kepada ayahnya,”Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba
dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami,lalu dia dimakan serigala.” Setelah
kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, ” tak ada cercaaan ter-hadap kalian.” Dan
ayah mereka
Ya’qub berkata, “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah
Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
17. Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara keledai. Allah SWT
berfirman, “Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai.” (Luqman: 19).
18. Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam, malaikat, unta Nabi
Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.
19. Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan
yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman, “Wahai api dinginlah dan
selamatkan Ibrahim.” (Al-Anbiya’: 69).
20. Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah
tentarabergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).

21. Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah tipu daya wanita, sebagaimana
firman Allah SWT, “Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar.” (Yusuf: 2Cool.

22. Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun
mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon
adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua di siang hari.

Pendeta dan para hadirin merasa takjub mendengar jawaban pemuda muslim tersebut.Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi. Namun ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta.

Pemuda ini berkata, “APAKAH KUNCI SURGA ITU?” mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil. Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.

Mereka berkata, “Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya! “

Pendeta tersebut berkata, “Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun aku takut kalian marah. “

Mereka menjawab, “Kami akan jamin keselamatan anda.”

Sang pendeta pun berkata, “Jawabannya ialah: ASHADU AN LA ILAHA ILLALLAH WA ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH.”

Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk agama Islam. ALLAHU AKBAR! Sungguh Allah telah menganugrahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.** Subhanallah…!!

(Semua itu tentu dengan Ilmu……)