“CERDAS EMOSI DAN CERDAS SPIRITUAL”

 

“Ke“cerdas”an “emosi”, mencakup pengendalian diri, semangat dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri”. (Daniel Goleman).

 

 

Ke“cerdas”an “emosi” memberi kita kesadaran akan perasaan sendiri dan perasaan orang lain. Daniel Goleman dalam bukunya ‘Emotional Intelligence, juga mengajarkan dan menanamkan rasa empati, cinta, motivasi dan kemampuan untuk menanggapi kesedihan atau kegembiraan secara tepat. Kesuksesan hidup secara sosial idealnya terdukung tidak hanya oleh ke“cerdas”an rasio, melainkan juga oleh ke“cerdas”an “emosi”. Ke“cerdas”an “emosi” dapat menjadi kunci sukses dan gagalnya seseorang.

 

 

Ke“cerdas”an “spiritual” adalah ke“cerdas”an tertinggi yang dapat diraih oleh manusia. Ke“cerdas”an “spiritual” memungkinkan manusia menjadi kreatif, mengubah aturan dan situasi. Ke“cerdas”an “spiritual” memungkinkan kita untuk bermain dengan batasan, menjalankan permainan tak terbatas. Ke“cerdas”an “spiritual” juga memberi kita kemampuan membedakan. Ke“cerdas”an “spiritual” memberi kita moralitas, kemampuan menyesuaikan aturan yang baku dengan pemahaman dan cinta serta kemampuan setara untuk melihat kapan cinta dan pemahaman sampai pada batasannya. Ke“cerdas”an “spiritual” dapat menangkap pesan dan hakikat baik dan jahat. Ke“cerdas”an “spiritual” pun mampu membayangkan suatu kemungkinan yang belum terwujud — untuk bermimpi, bercita-cita, dan mengangkat diri dari kerendahan. Ke“cerdas”an “spiritual” merupakan kemampuan internal bawaan otak dan jiwa manusia, dengan sumber terdalamnya terletak pada inti alam semesta, sejarah dan kedalaman jiwa kita. Menurut Zohar dan Marshall, ke“cerdas”an “spiritual” adalah fasilitas yang berkembang selama jutaan tahun, yang memungkinkan otak untuk menemukan dan menggunakan makna dalam memecahkan persoalan. Dalam tradisi Islam, salah satu jalan untuk hidup “cerdas spiritual” adalah tasawuf.

 

Muhamad Wahyuni Nafis, dalam bukunya ‘9 Jalan untuk “Cerdas Emosi” dan “Cerdas Spiritual”, membahas tentang ‘Sembilan Jalan untuk “Cerdas Emosi” dan “Cerdas Spiritual”. Dia membaginya menjadi ‘Tiga Jalan’:

1. Tiga Jalan Pertama: Sabar , syukur dan tawaduk.

2. Tiga Jalan Kedua: Baik sangka, amanah dan silaturahim.

3. Tiga Jalan Ketiga: Tawakal, ikhlas dan taqwa.

 

1. Sabar.

Sabar adalah mengekang kendali diri dan menahan pelampiasan amarah yang mengakibatkan kekecewaan dan kegelisahan. Orang yang sabar sangat sadar bahwa pelampiasan amarah dapat mendatangkan bencana. Penyabar, tidak mudah mengeluh, tidak suka mengadu dan tidak senang menyalahkan orang lain. Penyabar akan mendasarkan respons dan kegiatannya pada prinsip hidup yang benar, yaitu prinsip hidup yang menguntungkan semua pihak, membebaskan dan membahagiakan. Tidak akan mudah dipengaruhi oleh hal-hal eksternal. Tidak akan: ‘senang tiada kepalang kala mendapat pujian dan pusing tujuh keliling kala mendapat kritikan’.

 

2. Syukur.

Perilaku syukur dapat dimulai dengan sikap menerima keadaan apa adanya. Apabila mendapat keadaan yang tidak sesuai dengan keyakinan dan aturan yang berlaku, orang berkarakter syukur akan menghindar dan menolaknya dengan tenang serta tidak akan terpengaruh oleh keadaan buruk tersebut. Pemilik karakter syukur dapat menerima sekaligus memanfaatkan sesuatu yang disukai ketika memperolehnya. Ia juga sanggup menerima sesuatu yang ada dan yang tiada. Berkaitan dengan kecakapan, pemilik karakter syukur sangat maksimal menggunakan kecakapannya. Ia sangat maksimal memfungsikan berbagai komponen yang dimilikinya untuk meraih kehidupan yang lebih baik, lebih sukses dan lebih bahagia.

 

3. Tawaduk.

Tawaduk adalah perwujudan tiadanya sikap takabur. Para pemilik karakter tawaduk, tenang, penuh wibawa, rendah hati, tidak jahat, tidak congkak dan tidak sombong. Mereka adalah orang-orang yang berilmu dan bersikap lemah lembut. Mereka selalu menjaga kehormatan diri dan tidak berlaku bodoh. Orang berkarakter tawaduk selalu memperhatikan kedudukan orang lain dan tidak berlaku arogan. Mereka juga mempunyai karakter sederhana serta bebas dari sikap lalai dan berlebihan. Oleh sebab itu sikap tawaduk membuat pemiliknya disenangi sekaligus dikagumi orang lain. Tuhan juga mewajibkan Rasulullah SAW untuk bertawaduk kepada orang di sekitarnya sebagaimana firman Allah dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 215. Hadits Riwayat Muslim juga menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawaduk, sehingga tidak ada satupun yang terhina dan tidak satupun yang tersakiti’.

 

4. Baik Sangka (Positive Thinking).

Sikap dan perilaku ini sangat dianjurkan oleh Islam karena merupakan konsekwensi logis yang niscaya dari ajaran bahwa semua manusia pada dasarnya adalah baik. Manusia diciptakan oleh Allah SWT dan dilahirkan dalam keadaan fitah (suci). Jadi manusia pada dasarnya cenderung kepada kebenaran dan kebaikan. Hindarilah banyak berprasangka, karena sebagian prasangka adalah dosa. Juga janganlah saling memata-matai dan jangan saling menggunjing. Karakter baik sangka sangat erat kaitannya dengan sikap menjauhi perbuatan mengejek, mencela, mengolok-olok, merendahkan dan memberi sebutan buruk kepada orang lain.

 

5. Amanah.

Amanah merupakan salah satu konsekwensi iman, yaitu sifat dapat dipercaya. Amanah sebagai budi luhur adalah lawan khianat yang amat tercela. Amanah adalah sikap dan perilaku teguh dan konsisten terhadap peraturan, kesepakatan dan tuntutan alami. Karena itu, amanah sangat terkait erat dengan perilaku adil dan jujur. Amanah juga berarti integritas, yakni adanya kesatuan antara teori dan praktik, antara pengetahuan dan pengamalan. 

 

6. Silaturahim.

Silaturahim adalah pertalian cinta kasih sesama manusia, khususnya antara saudara, kerabat, handai-taulan, tetangga dan seterusnya. Manusia wajib mencintai sesamanya agar Allah juga mencintainya: “Kasihilah orang-orang di bumi, niscaya Dia (Tuhan) yang di langit akan mengasihimu.” Pengamal silaturahim akan menyapa orang lain dengan penuh makna dan kasih sayang, memenuhi undangan teman dan tetangga apabila tidak ada halangan yang berarti, serta menengok dan mendo’akan saudara dan teman yang mendapat musibah. Jalinan kasih sayang ini tentunya berlaku lintas keyakinan dan agama. Al-Qur’an telah menegaskan bahwa Rasulullah SAW, meskipun sangat tegas terhadap para penganut agama lain, tetap membina jalinan penuh kasih sayang dalam hubungan sosial dengan mereka, sebagaimana difirmankan dalam Surat Al-Fath ayat 29.

 

7. Tawakal.

Tawakal (kepada Allah) berarti memasrahkan segala sesuatu kepada kehendak Allah SWT. Sikap dan perilaku tawakal merupakan pekerjaan hati – lebih dalam. Tawakal merupakan amal hati. Karena itu, tawakal bukan dinyatakan dengan ucapan lisan dan perbuatan anggota tubuh. Karakter tawakal menuntut upaya yang memadai sebelum menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Tawakal merupakan sikap penyerahan diri secara total kepada kebenaran. Namun, penyerahan diri total gtersebut tetap menuntut dukungan berupa upaya-upaya memadai. Pemilik karakter “spiritual” tawakal secara individual sudah tidak mempunyai masalah dalam hal kecakapan. Hidupnya selaras dengan alam, yakni berpedoman pada prinsip yang alami.

 

8. Ikhlas.

Ikhlas adalah sikap tulus karena Allah SWT, sikap tulus karena keyakinan yang benar, baik dan bermaslahat. Dalam Islam, sikap ikhlas menjadi ruh seluruh ibadah baik ukhrawi maupun duniawi. Karakter “spiritual” ikhlas yang benar tentu saja harus didasarkan pada pengetahuan dan pemikiran yang benar. Jika tidak — tindakan ikhlas justru akan dapat mengakibatkan bencana. Misalnya, ada orang ikhlas menolong orang lain yang tenggelam, namun ia sendiri tidak dapat berenang. Apabila ia menolong dengan cara langsung terjun, itu sama saja dengan bunuh diri. Karakter “spiritual” ikhlas berkekuatan menolak kejahatan sekaligus mampu memalingkan seseorang dari kemungkaran.Keikhlasan juga menuntut konsistensi, jangan setengah-setengah atau sepotong-sepotong. Orang ikhlas memberi makna pada pelayanan bagi sesama.Pemilik karakter “spiritual” ikhlas akan dengan sendirinya menjalankan berbagai kegiatan yang telah dipikirkan secara matang dengan bersandar sepenuhnya kepada Allah SWT. Melayani, menolong dan membantu orang lain merupakan bagian tak terpisahkan dari karakter “spiritual” ikhlas. Ciri lain karakter “spiritual” ikhlas adalah hilangnya rasa iri hati, dengki dan dendam kepada orang lain.

9. Taqwa.

Taqwa mengandung arti tuntutan untuk menjaga diri. Orang yang bertaqwa berarti orang yang mampu menjaga diri. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 2 – 5, bahwa orang yang bertaqwa beriman kepada yang gaib, mendirikan salat menafkahkan sebagian rezeki yang Allah berikan, mengimani wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan para nabi sebelumnya, serta meyakini adanya Hari Akhir. Mereka itulah yang mendapat petunjuk Tuhan dan sukses. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 177, juga dijelaskan bahwa orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang beriman kepada Allah SWT, Hari Kiamat, para malaikat, kitab-kitab suci dan para nabi, menginfakkan harta karena Allah SWT kepada para kerabat, anak yatim, fakir miskin, orang dalam perjalanan, peminta-minta dan budak, mendirikan salat dan membayar zakat, memenuhi janji serta sabar dalam keadaan menderita, sengsara dan suasana kacau sekalipun.Dalam ayat-ayat lain juga menegaskan bahwa orang-orang bertaqwa akan sukses dan berhasil serta memperoleh rahmat dari Allah SWT.

 

 

Golongan manapun, termasuk penganut agama apa pun, dapat menjalani jalan untuk “cerdas emosi” dan “spiritual” di atas.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s